Kamis, 14 Juni 2012

Mindset Gelas Setengah Kosong


Masih ingat dengan petuah sopir bis Jaya Utama?  Syukurlah, ternyata masih banyak yang ingat. Tapi bolehlah saya ulang lagi, karena di belakang sana ada yang pada ngantuk. Berbuat atau berkata benar itu baik, tapi kalau berebut merasa paling benar jadi tidak baik. Tetapi ada kalanya, kita tidak bisa menghindar dari upaya memperebutkan kebenaran. Nggak masalah, no problemo, its ok.

Lho gimana sih, katanya nggak baik, tapi kok malah oka-oke saja, oo.. dasar lambene rusak ,mencla mencle, nggedabrus! Sik ta la rek, jangan misuh-misuh dulu. Maksud saya gini, kalau berebut kebenaran itu kita letakkan dalam bingkai BELAJAR tentu menjadi lain konteksnya. Proses belajar, memberikan ruang yang cukup pada kesalahan. Kesalahan dalam proses belajar bukanlah suatu akhir. Kesalahan hanyalah titik transit, rest area sebelum berhenti di Batununggal atau Leuwipanjang.

Ketika ada orang yang baru pertama kali menempuh perjalanan Jakarta – Bandung, kemudian dengan lantang mengatakan “Wah ternyata Jakarta – Bandung jauh sekali, jalannya berkelok-kelok, macet, sering berhenti di terminal, capek deh”. Tentu kita akan maklum karena dia lewat jalur puncak. Tentu sikap lantangnya akan berubah ketika pada kesempatan berikutnya menggunakan jalur Tol Cipularang, yang ternyata cepat dan mulus jalannya.

Proses belajar pada hakekatnya adalah sebuah paket bundling dalam suatu produk yang bernama manusia. Kesadaran akan tugas belajar, akan menghadirkan mindset gelas setengah kosong. Yaitu sebuah mindset yang masih memberikan ruang pada gelas untuk bisa diisi air lagi.  Sebaliknya, hilangnya kesadaran akan tugas belajar akan melahirkan mindset gelas penuh, yang tak bisa lagi diisi air. Menjadi sia-sialah menuang air pada gelas yang penuh.  

Nah itu yang duduk di pojok belakang, kok masih ngantuk aja, saya kasih pertanyaan, “Gajah hanya ada dimana? “ . “Di paling belakang Pak”. Bagus berarti sudah hilang ngantuknya...


Minggu, 20 Mei 2012

Senyum Simpul Dulu Ahh..


Sering kali kita dibuat judeg oleh berbagai informasi fenomena soial yang masuk dalam pikiran kita. Tiap hari media masa menyajikan topik kontroversial yang menarik untuk diperdebatkan. Untuk urusan ini tv merah dan tv biru biangnya. Pokoknya kalau belum sampai elek belum diganti topik kontroversial tersebut.

Kemudian di media sosial, walaupun kita bisa kontrol, terlalu seringnya mata kesenggol kata-kata sepet lama-lama juga bikin judeg juga. Bahkan ada juga yang prustasi dengan tak mau membuka lagi laman tersebut berbulan-bulan.

Hidup menjadi tambah runyam bila kita masukkan ke dalam pikiran kejadian-kejadian konyol di jalanan. Kita sudah mengambil jarak dengan mobil di depan agar aman, eee malah ada angkot ndusel. Lampu reting kiri sudah kita nyalakan, sepeda motor ngepot dari kiri macam tom & jerry aja yang nggak pernah cedera atau mati.

Biar nggak nambahi judeg, nggak perlu dilanjutkan daftar kekisruhannya. Alhamdulillah saya mendapatkan kata-kata penawar ketika berada dalam suasana seperti ini, yaitu: Ini dunia Bung! (medan mode on) bukan surga. Ya kurang lebih maknanya, memang enak sih berada di tempat yang nyaman, tetapi bukan itu esensi kehadiran kita di dunia. Kalau mau nyaman terus ya surga tempatnya.

Kalau kata-kata ini hadir, rasanya lebih enteng menatap kehidupan. Memang di luaran suasana tetap gaduh, dan kita nggak perlu nambahi kegaduhan. Dan ternyata sebuah senyum simpul sudah cukup untuk menjadi korek penyala energi kehidupan.

Dan ternyata pula, dari sebuah bak belakang truk, kita bisa mendapatkan camilan pencerah pikiran judeg, contoh tulisannya adalah : Ada uang abang disayang, tidak ada uang, abang kabeh raimu!